IDENTITAS:
Nama Guru : Ruwi Merliana, S.Pd
Mata pelajaran : Pkn, Seni Rupa, B.Indonesia, Matematika
Hari/tanggal : Senin, 06 April 2026
Kelas : 5 A
Materi Pokok : 1.PKN (permainan tradisional )
2. Bahasa Indonesia (kalimat majemuk bertingkat)
3. Seni Rupa (ragam hias)
4. Matematika (pengolahan data)
Alat Peraga : 1.PKN (video pembelajaran)
2. Bahasa indonesia (gambar sebab akibat)
3. Seni Rupa ( video pembelajaran)
4. Matematika (video pembelajaran)
Metode Pembelajaran : 1. Pendidikan Pancasila ( PBL)
2. Bahasa Indonesia (PBL)
3. Seni Rupa (PBL)
4. Matematika (PBL)
Assalamualaikum wr wb
Good morning soleh solehah 5A. Bagaimana keadaannya hari ini, semoga kita semua selalu dalam lindungan allah swt. aqlhamdulillah kita telah bersiap untuk aktivitas kembali setelah libur Hari sabtu minggu ya nak.
MATERI PELAJARAN : PKN
Permainan Olahraga Tradisional Asli Indonesia
Olahraga tradisional adalah permainan rakyat yang memiliki unsur olah fisik. Sebelum era digital, kebanyakan anak Indonesia bermain di luar ruangan untuk melakukan permainan tradisional ini.
Berikut beberapa contoh olahraga tradisional tersebut.
1. Gobak sodor
Gobak sodor adalah salah satu permainan jadul yang kini menjadi warisan budaya tak benda Daerah Istimewa Yogyakarta. Bentuk arena permainan ini persegi panjang dengan perbandingan panjang 16 meter dan lebar 8 meter, yang kemudian dibagi menjadi beberapa kotak berbentuk bujur sangkar.
Cara bermainnya, membuat dua kelompok dengan jumlah anggota 4-6 orang. Selanjutnya, masing-masing kelompok bergantian berdiri di atas garis, berjaga agar supaya anggota kelompok lawan tidak bisa masuk ke dalam arena permainan. Jika saat berusaha melewati garis kelompok lawan tersentuh kelompok yang berjaga maka kelompok lawan kalah.
2. Engklek
Engklek juga termasuk permainan olahraga tradisional karena mengharuskan pemainnya melompat atau dengan satu kaki dari satu kotak ke kotak lainnya. Biasanya, kotak digambar menggunakan kapur, arang, atau kayu jika di atas tanah. Permainan ini biasanya dimainkan oleh 2 orang atau lebih dengan cara bergantian. Tidak dapat dipastikan apakah engklek merupakan permainan ini asli Indonesia atau bukan. Menurut beberapa pendapat, olahraga tradisional ini sudah dimainkan anak-anak sejak zaman Romawi Kuno. Dalam bahasa Inggris, engklek dikenal dengan sebutan scotch hop.
3. Egrang
Egrang atau juga disebut dengan egrang sejatinya adalah alat olahraga tradisional yang berupa dua bilah bambu panjang dengan tatakan untuk berdiri di atasnya. Selanjutnya, jenis olahraga tradisional ini dimainkan dengan menaiki kedua bilah bambu tersebut kemudian berjalan. Permainan ini memerlukan keterampilan mumpuni dalam menjaga keseimbangan tubuh.
4. Bentengan
Benteng atau bentengan adalah salah satu dari olahraga tradisional Indonesia yang dilakukan secara berkelompok. Permainan ini membutuhkan ketangkasan, kecepatan berlari, dan strategi yang andal. Cara bermainnya, setiap pemain harus berlari menuju benteng lawan untuk menyerang, tapi juga harus sambil menjaga benteng sendiri dan menangkap lawan yang hendak menyerang benteng kita.
5. Lompat tali
Satu dari macam-macam olahraga tradisional yang cukup sering ditemui hingga kini adalah lompat tali. Lompat tali memerlukan 3 pemain atau lebih dalam permainannya. Itu karena dibutuhkan 2 orang untuk memegang tali, sedangkan 1 orang atau lebih yang melompati tali tersebut. Jika saat melompat pemain terkena atau menyentuh tali maka pemain tersebut dianggap kalah dan harus menggantikan pemain yang memegang tali sebelumnya.
6. Petak umpet
Petak umpet dilakukan lebih dari dua orang. Caranya, satu orang yang menjadi pencari temannya yang bersembunyi atau ngumpet, sedangkan teman main yang lain bersembunyi di suatu tempat. Permainan ini melibatkan aktivitas fisik karena si kecil harus bergerak bersembunyi atau mencari.
7. Bola bekel
Ada beberapa benda yang perlu disiapkan untuk memainkan permainan bola bekel. Pertama, bola bekel yang bentuknya bola kecil, lalu ada 6 biji yang disebut bekel. Permainan ini ada beberapa tahap, mulai dari mengambil satu biji bekel sampai enam bekel. Jika ada yang berhasil memenangkan semua langkah terlebih dahulu maka jadi pemenang. Permainan ini membutuhkan ketangkasan dan strategi.
8. Gundu atau kelereng
Untuk memainkan permainan ini cukup mudah. Pertama-tama pemain perlu membuat lingkaran yang cukup untuk menaruh masing-masing kelereng pemain. Selanjutnya, para pemain melemparkan kelereng ke arah lingkaran tersebut. Ini untuk menentukan urutan pemain.
Kemudian, seluruh pemain memasukkan masing-masing kelerengnya ke dalam lingkaran tersebut. Pemain sesuai urutannya menyentil kelereng yang dimilikinya ke arah lingkaran tadi dengan tujuan mengenai kelereng lawan dan membawanya keluar dari lingkaran tersebut. Jika ada beberapa gundu yang kena gundu kita, maka gundu lawan tersebut akan menjadi milik kita.
Tujuan Pembelajaran : Murid dapat mengenal dan memahami permainan tradisional dan cara bermainnya- TUGAS :
Setelah kalian membaca beberapa permainan tradisional diatas Buatkan tabel seperti contoh dihalaman 147 pada buku cetak.
VIDEO PEMBELAJARAN :
MATERI PELAJARAN : BAHASA INDONESIA
Tujuan Pembelajaran : Murid dapat memahami penggunaan kalimat majemuk bertingkat hubungan sebab akibat
Pengertian Kalimat Majemuk
Dalam menyusun sebuah paragraf, kamu bisa mengkombinasikan dua atau lebih kalimat tunggal menjadi satu. Nah, kombinasi kalimat tunggal itu lah yang disebut sebagai kalimat majemuk.
Dalam bahasa Indonesia, kalimat majemuk adalah struktur yang terdiri dari beberapa anak kalimat (klausa) bebas.
Beberapa klausa itu akan dihubungkan dengan kata hubung (konjungsi) dengan intonasi akhir tertentu.
Yap, penggunaan konjungsi atau kata hubung menjadi ciri khas dari kalimat majemuk ini, teman-teman.
Secara umum, kalimat majemuk dibedakan menjadi tiga jenis. Salah satunya adalah majemuk bertingkat.
Kalimat Majemuk Bertingkat
Kalimat majemuk bertingkat disebut juga dengan kalimat majemuk kompleks atau kalimat majemuk subordinatif.
Jenis kalimat ini memiliki lebih dari satu klausa, serta hubungan antar klausanya tidak sederajat.
Klausa pada kalimat majemuk terbagi menjadi dua, yakni klausa sebagai induk kalimat dan anak kalimat.
Untuk makin mengenal kalimat majemuk bertingkat, ciri-ciri kalimat majemuk bertingkat, antara lain:
1. Memiliki pola tidak sederajat.
2. Salah satu klausa bergantung pada klausa lain.
3. Kata hubungnya, meliputi:
- Meskipun
- Walaupun
- Supaya
- Agar
- Karena
- Sebab
- Sehingga
- Maka
- Ketika
- Apabila
Secara umum, terdapat beberapa jenis kalimat majemuk bertingkat yang dibedakan berdasarkan tujuan.
Ada kalimat majemuk bertingkat yang menyatakan hubungan syarat, tujuan, alat, perbandingan, dan sebab akibat.
Contoh Kalimat Majemuk Sebab-Akibat
Kali ini, kita akan secara khusus belajar tentang kalimat majemuk bertingkat yang menyatakan sebab akibat.
Hubungan sebab akibat berarti menyatakan alasan peristiwa bisa terjadi dan hasil dari peristiwa itu.
Berikut ini ada beberapa contoh kalimat majemuk yang menunjukkan hubungan sebab akibat. Simak, yuk!
Melansir dari berbagai sumber, kalimat majemuk adalah sebuah kalimat yang terdiri dari dua klausa utama atau lebih, dan masing-masing dapat berdiri sebagai kalimat yang lepas.
1. Rumah ini berdebu karena tidak pernah dibersihkan.
- Induk kalimat: rumah ini berdebu (akibat)
- Anak kalimat: karena tidak pernah dibersihkan (sebab)
2. Taman bunga itu sangat indah, sehingga banyak pengunjung.
- Induk kalimat: taman bunga itu sangat indah (sebab)
3. Melki terlambat pergi ke bandara karena bangun kesiangan.
Induk kalimat: Melki terlambat pergi ke bandara (akibat)
Anak kalimat: karena bangun kesiangan (sebab)
4. Rumah makan itu ramai pengunjung sebab rasanya enak.
Induk kalimat: rumah makan itu ramai pengunjung (akibat)
Anak kalimat: sebab rasanya enak (sebab)
5. Karena cuaca begitu ekstrem, saluran listrik dipadamkan.
Induk kalimat: karena cuaca begitu ekstrem (sebab)
Anak kalimat: saluran listrik dipadamkan (akibat)
6. Banyak polisi yang menjaga jalan, maka lalu lintas lancar.
Induk kalimat: banyak polisi yang menjaga jalan (sebab)
Anak kalimat: maka lalu lintas lancar (akibat)
7. Dimas jadi juara kelas karena ia rajin belajar.
Induk kalimat: Dimas jadi juara kelas (akibat)
Anak kalimat: karena ia rajin belajar (sebab)
Nah, itulah contoh kalimat majemuk bertingkat hubungan sebab-akibat. Semoga bisa bermanfaat, ya.
Tugas : buatlah diagaram seperti vcontoh pada buku kalian di halaman 156 dan 157 dari gambar yang miss berikan ya nak.
Video Pembelajaran :
MATA PELAJARAN : SENI RUPA
Tujuan Pembelejaran : Murid dapat mengenal berbagai jenis ragam hias dan pengertiannya
Ada banyak ragam hias yang bisa teman-teman temukan dengan mudah di berbagai benda atau karya seni.
Melalui materi kesenian kali ini, kita akan belajar tentang serba-serbi ragam hias dari pengertian hingga beberapa jenisnya.
Ragam hias memang bisa kita temukan di berbagai tempat, tapi di Indonesia, teman-teman akan menemukan berbagai ragam hias yang lebih unik.
Bahkan ragam hias di setiap wilayah di Indonesia bisa berbeda-beda hingga jadi ciri khas tiap daerah tersebut.
Sehingga berbagai ragam hias yang ada dini tidak akan lepas dari sejarah, budaya, hingga kepercayaan yang ada di setiap daerah asalnya.
Lebih jelasnya, mari simak pengertian dari ragam hias dan berbagai jenisnya.
Pengertian Ragam Hias
Ragam hias disebut juga dengan istilah ornamen yang ternyata berasal dari bahasa Yunani, yaitu ornane atau ornamen yang berarti menghias.
Sehingga secara umum, ragam hias merupakan karya seni rupa yang bertujuan memperindah suatu benda.
Teknik memperindah ini pun dilakukan dengan cara menyisipkan gambar hiasan.
Cara memberikan hiasan ini bisa dibuat dengan pola sangat beragam dengan terinspirasi dari bentuk flora, fauna, figuratif, dan geometrik.
Berbagai pola tersebut merupakan karya atau gambar yang bisa diaplikasikan pada karya seni dua dimensi dan tiga dimensi.
Sehingga karya seni ini bisa mengalami perubahan dalam bentuk penambahan, pengurangan, atau perubahan bentuk hingga ukuran.
Nah, ragam hias ini pun juga sangat beragam jenisnya. Berikut akan dijelasan beberapa jenis ragam hias yang bisa teman-teman pelajari.
Jenis-Jenis Ragam Hias
1. Ragam Hias Figuratif
Ragam hias figuratif merupakan bentuk ragam hias yang menggunakan obyek manusia yang digambar dengan penggayaan bentuk yang beragam.
Karena itu, ragam hias figuratif juga dikenal sebagai ragam hias figur manusia.
Pada proses pembuatannya, manusia akan dipandang sebagai objek yang punya beberapa unsur.
Sehingga unsur tersebut bisa dibuat dengan menggunakan salah satu unsur yang ditemukan.
Jadi, saat membuat ragam hias ini, seniman bisa meniru tubuh manusia, dari kepala hingga kaki dengan gaya tertentu walau tidak mirip sepenuhnya.
2. Ragam Hias Geometris
Ragam hias geometris ini merupakan hiasan yang mengacu pada bentuk ilmu ukur sebagai kerangka pola ulang atau rincian bentuk.
Sehingga ragam hias ini dikembangkan dari bentuk geometris yang kemudian dibentuk sesuai selera dan imajinasi pembuatnya. Ragam hias ini berawal dari bentuk titik, garis, atau bidang yang berulang, sehingga dimulai dari bentuk yang sederhana hingga menjadi rumit.
Jenis ini termasuk ragam hias yang sudah tua yang sudah dibuat oleh para leluhur kita terdahulu, loh..
3. Ragam Hias Flora
Ragam hias flora adalah hiasan berbentuk flora atau tumbuhan yang dibuat dengan beragam cara.
Ragam hias ini bisa dibuat secara natural atau stilisasi yang sesuai dengan konsep yang diinginkan seniman.
Biasanya, ragam hias ini akan dibentuk mirip seperti aslinya namun ada juga yang memadukannya dengan imajinasi sang seniman.
Contoh yang paling mudah ditemukan dari ragam hias ini adalah pada batik atau ukiran rumah tradisional yang juga jadi ciri khas dari asal karya seni tersebut.
4. Ragam Hias Fauna
Terakhir adalah ragam hias fauna yang menggunakan bentuk hewan baik hasil gubahan atau stilisasi.
Umumnya, para seniman memang jarang menggunakan bentuk binatang secara natural untuk jadikannya hiasan.
Walau tidak terlihat secara natural atau asli, ragam hias ini tetap bisa kita kenali sebagai objek yang mirip hewan tertentu.
Nah, itu beberapa penjelasan tentang ragam hias dari pengertian hingga jenis-jenis yang sering digunakan.
video pembelajaran :
MATERI PELAJARAN : MATEMATIKA
TUJUAN PEMBELAJARAN : Murid dapat memahami cara pengumpulan data dengan berbagai teknik
ateri Pengumpulan Data kelas 5
Data merupakan keterangan yang nyata dapat diakui kebenarannya. Data sendiri sebenarnya bukanlah hasil final. Data juga membutuhkan pengolahan. Sehingga nantinya menjadi informasi yang valid. Bagi pemangku kebijakan, data merupakan alat untuk menentukan langkah berikutnya.
Contoh, seorang guru menggunakan data nilai, data kehadiran siswa, data sikap siswa untuk menentukan metode dan program pembelajaran. Begitu juga pemerintah yang membutuhkan data rakyatnya dalam menentukan kebijakan berikutnya.
Pengumpulan data adalah sebuah proses yang dilakukan untuk mendapatkan data-data yangdibutuhkan. Ada beberapa cara dalam proses pengumpulan data, seperti tes, pengamatan, angket, bertanya langsung, dan sebagainya.
Setelah melakukan pengumpulan data, peserta didik juga diharapkan memahami dan mengetahui data yang dikumpulkan. Seperti mengumpukan data ukuran sepatu siswa kelas 5. Setelah itu, siswa juga harus tahu, berapa saja ukuran sepatu siswa kelas 5.
Gambar di atas adalah contoh hasil pengumpulan data berupa nilai Bahasa Daerah kelas 5 yang
diambil di buku matematika kelas 5 revisi 2018 halaman 205. Dari data di atas dapat diketahui,
jumlah siswa yang dapat 70, 75, 80, dan sebagainya. Tidak hanya itu, dari data tersebut juga
diketahui, nilai tertinggi dan terendah.
Materi Penyajian Data kelas 5
Menyajikan data merupakan proses selanjutnya setelah mengumpulkan data. Ada beberapa macam metode penyajian data. Berikut macam-macam penyajian data beserta contohnya:
1. Penyajian Data Dalam bentuk Daftar
Dalam menyajikan data dalam bentuk daftar, langkah yang pertama dilakukan adalah mengurutkan data kemudian mengumpukan data sesuai dengan kelompoknya. Langkah selanutnya membentuk daftar sesuai dengan data yang dibutuhkan.
Contoh:
Berikut data pekerjaan 10 orang tua siswa kelas 5: petani, pedagang, petani, guru, pedagang,
petani, petani, polisi, pedagang, pedagang. Sajikanlah data tersebut dalam bentuk daftar!
Daftar pekerjaan 10 orang tua siswa kelas 5
Petani = 4 orang
Pedagang = 4 orang
Guru = 1 orang
Polisi = 1 orang
Itulah contoh metode penyajian data dengan bentuk daftar. Dari daftar data tersebut, akan lebih
mudah dipahami dan dimengerti orang yang membaca data tersebut.
2. Penyajian Data Dalam bentuk Tabel
Penyajian data dalam bentuk table merupakan kelanjutan data dalam bentuk daftar. Setelah data di
daftar maka bisa diberi garis untuk menampilkan data dalam bentuk table. Untuk lebih mudahnya
memahami bisa langung di simak contoh soal di bawah ini:
Hasil ulangan Materi Penyajian Data Kelas V SDN nusantara 1 diperoleh nilai sebagai berikut:
95, 85, 65, 75, 75, 85, 75, 95, 70, 80, 75, 95, 75, 95, 70, 80, 75, 95, 75, 80, 75, 70, 75, 75, 90, 95, 80, 90, 65, 70, 75, 90, 85, 70, 85, 70.
Buatlah tabel frekuensi data tersebut!
Jawab
Ubahlah data tersebut dalam bentuk Diagram Gambar!
4. Penyajian Data Dalam Bentuk Diagram Batang
Diaram batang merupakan bentuk penyajian data yang paling sering dijumpai. Biasanya sekolah,
perkantoran, dan beberapa instansi menggunakan diagram batang sebagai slaah satu bentuk
penyajian data.
Dalam menentukan diagram batang, yang harus dilakukan dalah mengelompokkan data atau
mengurutkan, atau membuat data dalam bentuk daftar. Kemudian buatlah diagram sumbu X dan Y.
Untuk X berisi data yang disajikan, sedangkan sumbu Y berisi banyak dari data yang disajikan.
Contoh Soal dan penyelesaian:
Siti mencatat profesi semua orang tua siswa kelas V SD Nusantara 01. Siti menanya satu per satu
profesi orang tua siswa kelas V dan diperoleh data sebagai berikut: Pegawai Negeri Sipil (PNS)
sebanyak 8 orang, Petani sebanyak 12 orang, Wiraswasta sebanyak 2 orang, TNI sebanyak 5
orang, Guru sebanyak 3 orang. Ubahlah data tersebut dalam diagram batang!
5. Penyajian Data Dalam Bentuk Diagram Garis
Pada dasarnya diagram garis tidak jauh beda dengan diagram batang. Karena sama sama menggunakan diagram cartesius atau diagram sumbu x dan y.
Namun yang membedakan antara diagram garis dan batang adalah frekuensi datanya. Jika diagramm batang berupa batang, sedangkan diagram garus berupa titik titik setiap data yang kemudian ditarik menjadi sebuah garis. Untuk lebih mudahnya bisa langsung disimak contoh soal di bawah ini.
Tinggi badan Meli juga dicatat secara berkala Pengukuran berat badan juga untuk memantau perkembangan anak. Meli memiliki catatan tinggi badannya selama 5 tahun, yaitu mulai umur 7
tahun hingga umur 11 tahun.
Berdasarkan hasil catatan yang dilakukan secara berkala, diperileh:
VIDEO PEMBELAJARAN :
REFLEKSI : pada pembelajaran PKN dengan menggunakan beberapa video tentang permainan tradisional siswa dapat mengenal dan memahami cara bermain dari permainan tradisional tersebut
PENUTUP: demikian pembelajaran kita hari ini semoga bermanfaat wassaslamualiakum wr wb



0 komentar:
Posting Komentar